AboutOtherJournalFollow

...If She Doesn't Know What She'll Become

Bagiku, memiliki profesi bukanlah hal utama, karena profesi hanyalah embel-embel dunia untuk membedakan peran seseorang di masyarakat atau tinggi rendahnya posisi seseorang di mata orang lain.

Yang terpenting bagiku adalah ketika peranku sebagai wanita di dunia sudah terpenuhi. Menjadi muslimah shalihah, menjadi istri yang taat, dan menjadi ibu peradaban adalah peran utama yang ingin aku kejar apapun profesiku.

Maka jangan heran jika profesiku terus berubah-ubah untuk mendukung peranku itu. Bisa jadi aku menjadi karyawan yang bekerja full-time bila keadaan ekonomi rumah tangga kita membutuhkan bantuan tambahan dariku. Bisa jadi aku tiba-tiba berhenti kerja karena kau dan anak-anak ternyata membutuhkanku untuk lebih banyak di rumah. Bisa juga aku menjadi mahasiswi lagi karena kau sedang memegang amanah berat yang membutuhkanku untuk menjadi asisten pribadimu dengan kemampuan tertentu. Atau bisa saja aku menjadi ustadzah karena lingkungan di sekitar rumah kita membutuhkan seorang guru ngaji.

Karena yang membuatku tersenyum adalah ketika melihatmu terbantu oleh keberadaanku. Yang membuatku lega adalah ketika ridhomu selalu menyertaiku. Yang membuatku bahagia adalah ketika anak-anak kita tumbuh menjadi anak yang shaleh dan shalihah. Yang membuatku bangga adalah, ketika keluarga kecil kita menjadi bagian dari pilar yang turut membangun peradaban Islam di bumi Allah.

Suamiku, seperti halnya aku yang tak peduli apa profesiku, begitulah aku berfikir tentang dirimu. Kau hanya perlu menjadi dirimu sendiri dengan profesi yang kau mau.

Yang ingin ku ingin tahu hanyalah, apa cita-citamu bersama aku dan anak-anak kita, serta jalan mana yang kau pilih untuk membimbing aku dan anak-anak kita menuju Jannah Nya. Dengan begitu, aku akan mengambil porsiku untuk mendukungmu.

Karena pada akhirnya, yang kuinginkan adalah membersamai mimpimu.


***


Sepenggalan dari CeritaJika #20 : Jika Istrimu adalah Seorang yang Tak Tahu Mau Menjadi Apa, proyek menulis garapan Kurniawan Gunadi. Entah kenapa merasa... this is what I've always tried to poured out in writing meski nggak se-ekstrim ini juga. I still have ambitions, tho. Ada banyak hal yang masih ingin aku lakuin entah itu karena aku percaya ada hal baik yang muncul ketika aku ngelakuin itu atau semata-mata karena aku emang enjoy ngelakuinnya. Things like volunteering for international NGO whose specialization is in helping children in remote/conflict areas, working in media and creative industry, or simply watching orchestra live in Vienna. Tapi setinggi-tingginya ambisi, they're just the vehicles, not the destination. Ketika keadaan nggak memungkinkan kita untuk meraih satu atau beberapa goals tadi, there's nothing to lose if we do it for our family because basically, what makes us happy the most is the quality of our relationship with them. Udah berapa banyak dari kita yang berlelah-lelah mencari makna diri dan pengakuan di luar dengan ikut kegiatan ini-itu, mengejar target di tempat kerja atau sekolah sampai sedemikian rupa, padahal yang kita cari sebenernya cuma lingkaran terdekat yang bisa merasa bahagia hanya dengan keberadaan kita. Bukannya perempuan nggak boleh berambisi tinggi, tapi lebih fleksibel aja dalam proses meraihnya karena gimana-gimana peran paling krusial perempuan adalah segala yang terjadi di rumahnya. We, ladies, just need to be more aware that the battlefield we face to attain Heaven is simply in our houses :)


Newer Post© 2013 Layout. Font. Image & IconOlder Post