AboutOtherJournalFollow

Filosofi Angin
Jika suatu hari kau ingin dilahirkan kembali, maka jadilah angin.

Kata seseorang.

Kenapa harus angin?

Tanya seorang lainnya.

Karena, meskipun tak tersentuh, tak teraba, dan tak terdengar, angin selalu ada. Ia tak ingin hanya sekedar menjadi udara biasa, yang dihirup lalu dikeluarkan kembali. Ia ingin banyak orang menyadari bahwa ia ada. Ia ingin menunjukkan keberadaannya pada orang lain. Ia ingin beritahukan pada dunia bahwa ia tidak sekedar biasa. Maka ia harus melakukan sesuatu. Ia harus melakukan gerakan. Karena memang itulah konsep angin sebenarnya. Angin adalah udara yang bergerak.

Angin itu kuat. Meskipun keberadaannya nyaris tak nampak, tapi ia mampu menggesek dedaunan, menggerakkan kincir angin, bahkan menciptakan badai. Ia harus bersusah payah bergerak cepat dan menelusuri setiap ujung bumi agar setiap makhluk yang bernyawa merasakan kehadirannya dan menghargai keberadaannya.

Lantas, apa hubungannya denganku?


Maka jadilah seperti angin. Yang tak hanya diam dan menerima nasibnya secara pasrah. Ia melawan setiap rintang yang menghalangi agar ia mampu melakukan sesuatu dan memberikan yang terbaik pada dunia tempat ia bernaung. Jadilah pemberani sepertinya, yang mampu melintasi tiap senti kehidupan dan menghadapinya, apapun itu. Jadilah orang yang tidak hanya berpatokan pada nasib, tapi mau bermimpi dan berusaha untuk menjadi yang terbaik dan bertanggung jawab pada setiap pilihan yang ia buat :)

Labels:

Amore
4:41 AM, 0 comments
Pada jaman dahulu, di sebuah tempat bernama dunia, tinggallah benda-benda seperti kebahagiaan, ketulusan, kecantikan, kekayaan, kesedihan, dan lain lain. Disana, mereka tinggal bahagia dalam waktu yang sangat lama. Di antara benda-benda tersebut, ada dua hal yang tak lebur oleh zaman, yaitu waktu dan cinta.

Ketika waktu terus merangkak, hal-hal yang indah tak berjalan selamanya. Kini ketulusan dan kesetiaan sudah mulai tua. Bagian-bagian tubuh mereka sudah cacat dan mulai rusak. Hal itu membuat cinta sangat sedih. Ketulusan dan kesetiaan adalah teman terbaiknya. Mereka selalu ada, bersama-sama dengan cinta dan tak pernah lepas darinya.

“Ketulusan, apakah kamu akan selalu ada bersamaku?” kata cinta suatu kali. “Tidak, cinta. Ada kalanya nanti aku akan mulai menipis, dan menghilang bersama angin dari hati para manusia. Aku akan tergantikan oleh kekayaan, kecantikan, atau kamuflase,” kata ketulusan.

Cinta bertanya lagi. Kali ini pada kesetiaan. “Kesetiaan, apakah kamu akan selalu ada bersamaku?” Kesetiaan menggeleng. “Tidak, cinta. Suatu saat, aku akan meredup, dan nafsu akan mengambil alih tugasku. Ia membohongi setiap hati, dengan bujukan dan rayuan yang berkedok sebagai aku,”

Cinta hampir putus harapan, ketika kemudian kebijakan datang kepadanya. “Jangan takut, cinta. Saat kesetiaan dan ketulusan sudah pada batasnya untuk menemanimu, temuilah kejujuran,” kata kebijakan. Cinta bertanya, “mengapa harus kejujuran?”

Sebab, cinta yang sejati, cinta yang polos, dan cinta yang murni, itu jujur dan tanpa syarat, tidak menipu. Kejujuran mungkin tidak bertahan lama dalam hati, tapi kejujuran akan terus melekat pada cinta, selamanya. Sebab, ketika cinta sudah berjalan beriringan dengan kejujuran, maka hal-hal baik lainnya akan terbawa bersamanya. Kesetiaan, ketulusan, kebahagiaan, tak akan pernah lepas dari mereka.

Sebab, cinta, tampak atau tidaknya ia, selalu memiliki apa yang sekarang ini sudah hampir luntur dari hati-hati yang berkerak. Karena cinta, selalu jujur pada hati yang tercermin untuknya :)

Labels:

tentang mawar dan kerapuhannya
Sunday, November 15, 2009, 4:09 AM, 0 comments
Pada awal ketika silsilah dunia baru saja dimulai, di sebuah padang rumput hidup sekuntum bunga yang cantik. Bunga itu merekah dengan indahnya setiap hari dan menguarkan warna merah darah. Bunga itu hanya ada satu-satunya di dunia. Dan orang-orang pun memanggilnya mawar.

Tapi betapa pun anggun dan cantiknya mawar, tak ada orang yang berani mendekat ke arahnya atau menyentuhnya. Hanya karena duri berbentuk jarum di sekeliling tangkainya lah orang-orang takut terluka karenanya.

Mawar merasa sedih. Cahaya matahari tak mampu ceriakan ia lagi. Segarnya embun tidak membuatnya sejuk lagi. Dan helaian angin kini tak bisa menghiburnya.

Ia mengutuk dirinya sendiri. Kenapa ia tak ditakdirkan jadi apel saja, atau jeruk, atau semangka. Karena meskipun mereka tak secantik dirinya, tapi orang-orang selalu menyukainya. Orang-orang bisa menikmati renyahnya apel, manisnya jeruk, dan segarnya semangka tanpa takut terluka.

Lama kelamaan, mawar itu tak punya semangat hidup lagi. Setiap hari ia hanya menangis dan menangis. Hatinya hancur dan lepuh. Ia terlelap dalam penderitaannya, hingga ia kehilangan rona merahnya dan menjadi layu.

Sampai kemudian datanglah seekor kupu-kupu. Kupu-kupu yang menawan dengan sayap yang lebar berwarna lembayung. Melihat mawar itu layu, kupu-kupu segera bertanya.

“Mawar, kenapa kamu siksa dirimu sendiri hingga menjadi layu seperti ini?”
Mawar tetap terisak. “Tak ada orang yang suka padaku. Aku mengerikan. Tak ada gunanya aku cantik kalau duri-duri sialan itu masih bertengger di tangkaiku. Aku ingin jadi cantik dan sempurna, seperti yang lainnya,”

Kupu-kupu tersenyum kecil. “Kalau begitu kenapa kamu malah terbenam dalam penderitaanmu? Jika kamu layu, maka kamu akan semakin tak berguna. Menyesali diri tak akan menyelesaikan masalah, juga tak akan menghilangkan duri di tangkaimu. Kenapa kamu tidak menerima takdirmu dengan ikhlas dan membiarkan semuanya berjalan apa adanya? Jika kesempurnaan itu ada, jika kebahagiaan itu selamanya, maka kita tak akan ada disini. Tak ada bumi, tak ada langit, tak ada angin. Karena kesempurnaan itu hanya satu. Dan hanya Tuhan yang memiliki. Sadari itu,”

Mawar tertegun. Semua tindak dan ucapannya selama ini berbaur dalam pikirannya. Apakah selama ini ia serakah, meminta terlalu jauh, terlalu banyak? Ia hanya ingin dicintai dan bahagia, selamanya. Tapi apakah itu berlebihan? Bukankah setiap makhluk berhak atas kebahagiaan?

Seakan bisa menerka pikiran mawar, kupu-kupu melanjutkan. “Tak ada salahnya berharap bahagia. Tapi kebahagiaan itu relatif. Jika kamu menempatkan hatimu pada posisi menderita, padahal kamu telah dianugerahi banyak kelebihan, maka kelebihan yang seharusnya menjadi sumber bahagiamu akan sia-sia. Terbuang tanpa makna, karena kamu sendiri lah yang membuatnya demikian,”

Dan kemudian kupu-kupu pergi menjauh. Mawar tertegun untuk kedua kalinya. Mungkin benar adanya kata-kata kupu-kupu itu. Bila ia bereaksi terlalu berlebihan pada masalahnya, padahal ia mempunyai beribu kelebihan lainnya, lalu ia meminta kesempurnaan, maka itu serakah. Ya, kini ia sadar bahwa selama ini ia salah. Tak pantas ia meminta yang bukan-bukan seperti itu. Ia menegakkan tangkainya dan menatap matahari. Hari-hari yang penuh syukur akan ia jalani, selamanya.

Labels:

Over You
Friday, November 13, 2009, 10:36 PM, 0 comments

“Sori, tapi mending kita putus aja, ya,”

Sebaris kalimat yang keluar dari bibir Daren barusan membuat tubuhku kaku seketika. Amplop berisi foto-foto yang kubawa terjatuh dan menimbulkan suara hening di kejauhan. Aku berdiri diam. Sangat diam, sampai seluruh tubuhku terasa dingin. Angin sepoi-sepoi mempermainkan rambutku hingga bergoyang-goyang pelan.

“Tapi kenapa? Kita udah hampir setahun jadian, kan? Kenapa kamu minta putus gitu aja? Tanpa alasan?” tuntutku. Daren terdiam. Ia menunduk, memandang kerikil-kerikil yang berkumpul di sekitar kakinya. Melihat wajah Daren yang tanpa ekspresi, pipiku terasa pias. Aku merasakan bola mataku bergerak kacau hingga menimbulkan lapisan bening air mata.

Ada jeda begitu lama, hingga Daren tiba-tiba membungkuk. Ia menyandang ranselnya di bahu dan menatap mataku sekilas. “Sori, Lin. Aku rasa ini emang keputusan yang terbaik,”. Kemudian ia berbalik, berjalan dengan langkah panjang dan menjauh pergi.

Aku ingin berteriak, tapi tenggorokanku tercekat. Aku ingin memanggilnya kembali, tapi tak ada getar suara yang keluar. Aku ingin berlari menyusulnya, tapi kakiku terpaku kuat di tanah.

Begitu bayangan Daren menghilang dari pandanganku, aku menangis. Bulir air mata meluncur keluar dari mataku tanpa bisa ditahan hingga wajahku penuh dengan air mata. Bagaimana bisa ia pergi tanpa meninggalkan sedikit pun pesan kecuali sakit dan air mata? Bagaimana bisa ia menjauh dariku dan dengan mudahnya menghapus kenangan-kenangan yang lalu seolah itu tak pernah ada? Dan bagaimana ia bisa mengatakan ini keputusan yang terbaik, entah untuk siapa?

Aku menangkupkan wajah dengan kedua belah tangan. Taman itu sepi sekali. Hanya ada angin dan kenangan pedih yang ada saat ini. Ia pernah kuangggap sebagai satu-satunya penyatu yang mampu membuatku sempurna, tapi hanya dengan satu kalimat saja, rasanya ia terasa jauh. Jauh sekali, hingga aku tak akan pernah bisa meraihnya lagi sampai kapan pun.

Aku teringat pada foto-foto yang jatuh berserakan. Lalu aku berjongkok untuk merapikan foto-foto itu. Aku mengambil satu foto, dan tatapanku tertumbuk pada dua sosok yang tersenyum bahagia, saling berangkulan. Kuambil lagi sebuah foto, dan melihat wajah dua orang dengan kostum konyol Halloween. Lagi, dan lagi, foto-foto itu merefleksikan banyak hal. Foto saat makan coklat Valentine, dua tangan yang saling bergandengan, duduk dengan saling bersandar punggung, saat berboncengan sepeda. Air mataku turun perlahan dan jatuh di salah satu gambar, menyaksikan bayanganku dan Daren yang ada pada setiap foto.

Kutarik napas, lalu kembali melanjutkan menyusun kepingan-kepingan hati yang berserak. Kepingan-kepingan yang telah menyusun hatiku dan hatinya selama berbulan-bulan. Susah sekali bagiku untuk mengembalikan kepingan-kepingan yang ada dalam foto-foto itu kembali ke tempatnya semula, di hatiku. Dan betapa sakit dan perihnya seluruh senti tubuhku, saat aku menyadari bahwa ternyata selama ini Daren tak pernah menjadi yang terbaik bagiku.

Ketika Daren tak lagi menjadi satu-satunya bagiku, ketika ia telah mencuri hatiku dan dengan mudahnya meretakkan setiap sisinya, maka kini waktuku untuk berbalik. Aku berdiri, dan berjalan di langkah yang berlawanan dengan Daren saat ia pergi. Di hari saat aku berpikir aku tak akan pernah mampu melewati waktu-waktu berikutnya tanpanya, maka di saat itulah aku sudah bisa merelakannya.

Labels:


© 2013 Layout. Font. Image & IconOlder Post