AboutOtherJournalFollow

Broken

Aku maju selangkah semakin dekat. Ke arahmu. Tapi kamu bergeming. Menatap jejak bayangku seolah itu bukan apa-apa. Dan ketika jarak sudah tak lagi menjadi penghalang, aku tak lagi menemukan binar di matamu. Sudah tak ada lagi getar yang sama seperti beberapa waktu lalu yang sempat kita lewatkan bersama, sengaja maupun tidak.

Bertahun aku berikan. Tulus dan tak mengharap cinta itu akan kembali dengan utuh padaku. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu sakiti itu. Permainkan dan ketika kamu bosan, kamu buang cinta itu ke dalam ketiadaan. Tak tahukah kamu kalau aku hampir menghilang bersamaan dengan hilangnya cahaya cinta itu dan terus melayang dalam kehampaan?

Kamu tahu, bagaimana rasa sakit itu menyakitiku? Sakit, sakit sekali. Aku ditipu, dikhianati, dibohongi, tepat di depan mataku sendiri, bertahun-tahun. Bodohnya aku, aku selalu mengharapkan kamu kembali. Kembali pada saat ketika kita masih berpegang pada akar yang sama. Saat ketika kita masih membingkai kenangan-kenangan lama, yang selama ini ternyata tak cukup berharga untuk memberikan makna di hatimu.

Kamu, masih seperti kamu yang dulu. Masih dengan sosok yang selama ini selalu aku kagumi. Tapi kamu yang kini di depanku, juga bukan seperti kamu yang dulu. Begitu mudahnya kamu berkata ‘iya’ pada kata-kata yang paling tak ingin aku ucapkan di hadapanmu. Kata-kata yang memutus semua benang yang terlalu rapuh untuk kita genggam bersama. Kita putus.

Andaikan bisa, aku ingin bersembunyi jauh sekali, agar tak bisa melihat matamu lagi. Karena aku yakin, seberapa dalam pun mata itu, aku tak akan bisa melihat refleksi diriku lagi di dalam sana. Aku tak akan mampu mengajak pemilik mata itu untuk kembali pada masa yang lampau. Di saat tawa dan air mata selalu kita bagi tanpa ada keraguan untuk memilihnya.

Maukah kamu membantuku untuk mengerti? Untuk berhenti sejenak, dan tentang apa yang telah terlewatkan oleh kita dalam jarak yang cukup panjang. Bisakah kamu hentikan waktu? Agar segala sesuatu di sekitar kita melambat, hingga mampu ingatkan kamu pada apa yang telah kita tinggalkan jauh-jauh di belakang.

Terima kasih, untuk apa yang telah kamu berikan secara cuma-cuma padaku. Entah itu tersembunyi di balik senyumku atau luruh dalam air mata. Terima kasih, untuk memberikanku kesempatan merasakan manis dan sakit yang sesungguhnya pada saat yang sama. Dan terima kasih, untuk kata-kata yang tak sempat terucapkan, dan hanya akan bersembunyi dalam hati.
Aku hanyalah sekeping kecil dari larik kehidupanmu, maka biarkan aku menempuh jalan berduri ini dan meninggalkan kenangan-kenangan semu tentang kamu, jauh-jauh di belakang.

#04/11/09

Labels: ,


Newer Post© 2013 Layout. Font. Image & IconOlder Post