Amore
Monday, November 16, 2009, 4:41 AM, 0 comments
Pada jaman dahulu, di sebuah tempat bernama dunia, tinggallah benda-benda seperti kebahagiaan, ketulusan, kecantikan, kekayaan, kesedihan, dan lain lain. Disana, mereka tinggal bahagia dalam waktu yang sangat lama. Di antara benda-benda tersebut, ada dua hal yang tak lebur oleh zaman, yaitu waktu dan cinta.
Ketika waktu terus merangkak, hal-hal yang indah tak berjalan selamanya. Kini ketulusan dan kesetiaan sudah mulai tua. Bagian-bagian tubuh mereka sudah cacat dan mulai rusak. Hal itu membuat cinta sangat sedih. Ketulusan dan kesetiaan adalah teman terbaiknya. Mereka selalu ada, bersama-sama dengan cinta dan tak pernah lepas darinya.
“Ketulusan, apakah kamu akan selalu ada bersamaku?” kata cinta suatu kali. “Tidak, cinta. Ada kalanya nanti aku akan mulai menipis, dan menghilang bersama angin dari hati para manusia. Aku akan tergantikan oleh kekayaan, kecantikan, atau kamuflase,” kata ketulusan.
Cinta bertanya lagi. Kali ini pada kesetiaan. “Kesetiaan, apakah kamu akan selalu ada bersamaku?” Kesetiaan menggeleng. “Tidak, cinta. Suatu saat, aku akan meredup, dan nafsu akan mengambil alih tugasku. Ia membohongi setiap hati, dengan bujukan dan rayuan yang berkedok sebagai aku,”
Cinta hampir putus harapan, ketika kemudian kebijakan datang kepadanya. “Jangan takut, cinta. Saat kesetiaan dan ketulusan sudah pada batasnya untuk menemanimu, temuilah kejujuran,” kata kebijakan. Cinta bertanya, “mengapa harus kejujuran?”
Sebab, cinta yang sejati, cinta yang polos, dan cinta yang murni, itu jujur dan tanpa syarat, tidak menipu. Kejujuran mungkin tidak bertahan lama dalam hati, tapi kejujuran akan terus melekat pada cinta, selamanya. Sebab, ketika cinta sudah berjalan beriringan dengan kejujuran, maka hal-hal baik lainnya akan terbawa bersamanya. Kesetiaan, ketulusan, kebahagiaan, tak akan pernah lepas dari mereka.
Sebab, cinta, tampak atau tidaknya ia, selalu memiliki apa yang sekarang ini sudah hampir luntur dari hati-hati yang berkerak. Karena cinta, selalu jujur pada hati yang tercermin untuknya :)
Ketika waktu terus merangkak, hal-hal yang indah tak berjalan selamanya. Kini ketulusan dan kesetiaan sudah mulai tua. Bagian-bagian tubuh mereka sudah cacat dan mulai rusak. Hal itu membuat cinta sangat sedih. Ketulusan dan kesetiaan adalah teman terbaiknya. Mereka selalu ada, bersama-sama dengan cinta dan tak pernah lepas darinya.
“Ketulusan, apakah kamu akan selalu ada bersamaku?” kata cinta suatu kali. “Tidak, cinta. Ada kalanya nanti aku akan mulai menipis, dan menghilang bersama angin dari hati para manusia. Aku akan tergantikan oleh kekayaan, kecantikan, atau kamuflase,” kata ketulusan.
Cinta bertanya lagi. Kali ini pada kesetiaan. “Kesetiaan, apakah kamu akan selalu ada bersamaku?” Kesetiaan menggeleng. “Tidak, cinta. Suatu saat, aku akan meredup, dan nafsu akan mengambil alih tugasku. Ia membohongi setiap hati, dengan bujukan dan rayuan yang berkedok sebagai aku,”
Cinta hampir putus harapan, ketika kemudian kebijakan datang kepadanya. “Jangan takut, cinta. Saat kesetiaan dan ketulusan sudah pada batasnya untuk menemanimu, temuilah kejujuran,” kata kebijakan. Cinta bertanya, “mengapa harus kejujuran?”
Sebab, cinta yang sejati, cinta yang polos, dan cinta yang murni, itu jujur dan tanpa syarat, tidak menipu. Kejujuran mungkin tidak bertahan lama dalam hati, tapi kejujuran akan terus melekat pada cinta, selamanya. Sebab, ketika cinta sudah berjalan beriringan dengan kejujuran, maka hal-hal baik lainnya akan terbawa bersamanya. Kesetiaan, ketulusan, kebahagiaan, tak akan pernah lepas dari mereka.
Sebab, cinta, tampak atau tidaknya ia, selalu memiliki apa yang sekarang ini sudah hampir luntur dari hati-hati yang berkerak. Karena cinta, selalu jujur pada hati yang tercermin untuknya :)
Labels: prettypoem