AboutOtherJournalFollow

Over You

“Sori, tapi mending kita putus aja, ya,”

Sebaris kalimat yang keluar dari bibir Daren barusan membuat tubuhku kaku seketika. Amplop berisi foto-foto yang kubawa terjatuh dan menimbulkan suara hening di kejauhan. Aku berdiri diam. Sangat diam, sampai seluruh tubuhku terasa dingin. Angin sepoi-sepoi mempermainkan rambutku hingga bergoyang-goyang pelan.

“Tapi kenapa? Kita udah hampir setahun jadian, kan? Kenapa kamu minta putus gitu aja? Tanpa alasan?” tuntutku. Daren terdiam. Ia menunduk, memandang kerikil-kerikil yang berkumpul di sekitar kakinya. Melihat wajah Daren yang tanpa ekspresi, pipiku terasa pias. Aku merasakan bola mataku bergerak kacau hingga menimbulkan lapisan bening air mata.

Ada jeda begitu lama, hingga Daren tiba-tiba membungkuk. Ia menyandang ranselnya di bahu dan menatap mataku sekilas. “Sori, Lin. Aku rasa ini emang keputusan yang terbaik,”. Kemudian ia berbalik, berjalan dengan langkah panjang dan menjauh pergi.

Aku ingin berteriak, tapi tenggorokanku tercekat. Aku ingin memanggilnya kembali, tapi tak ada getar suara yang keluar. Aku ingin berlari menyusulnya, tapi kakiku terpaku kuat di tanah.

Begitu bayangan Daren menghilang dari pandanganku, aku menangis. Bulir air mata meluncur keluar dari mataku tanpa bisa ditahan hingga wajahku penuh dengan air mata. Bagaimana bisa ia pergi tanpa meninggalkan sedikit pun pesan kecuali sakit dan air mata? Bagaimana bisa ia menjauh dariku dan dengan mudahnya menghapus kenangan-kenangan yang lalu seolah itu tak pernah ada? Dan bagaimana ia bisa mengatakan ini keputusan yang terbaik, entah untuk siapa?

Aku menangkupkan wajah dengan kedua belah tangan. Taman itu sepi sekali. Hanya ada angin dan kenangan pedih yang ada saat ini. Ia pernah kuangggap sebagai satu-satunya penyatu yang mampu membuatku sempurna, tapi hanya dengan satu kalimat saja, rasanya ia terasa jauh. Jauh sekali, hingga aku tak akan pernah bisa meraihnya lagi sampai kapan pun.

Aku teringat pada foto-foto yang jatuh berserakan. Lalu aku berjongkok untuk merapikan foto-foto itu. Aku mengambil satu foto, dan tatapanku tertumbuk pada dua sosok yang tersenyum bahagia, saling berangkulan. Kuambil lagi sebuah foto, dan melihat wajah dua orang dengan kostum konyol Halloween. Lagi, dan lagi, foto-foto itu merefleksikan banyak hal. Foto saat makan coklat Valentine, dua tangan yang saling bergandengan, duduk dengan saling bersandar punggung, saat berboncengan sepeda. Air mataku turun perlahan dan jatuh di salah satu gambar, menyaksikan bayanganku dan Daren yang ada pada setiap foto.

Kutarik napas, lalu kembali melanjutkan menyusun kepingan-kepingan hati yang berserak. Kepingan-kepingan yang telah menyusun hatiku dan hatinya selama berbulan-bulan. Susah sekali bagiku untuk mengembalikan kepingan-kepingan yang ada dalam foto-foto itu kembali ke tempatnya semula, di hatiku. Dan betapa sakit dan perihnya seluruh senti tubuhku, saat aku menyadari bahwa ternyata selama ini Daren tak pernah menjadi yang terbaik bagiku.

Ketika Daren tak lagi menjadi satu-satunya bagiku, ketika ia telah mencuri hatiku dan dengan mudahnya meretakkan setiap sisinya, maka kini waktuku untuk berbalik. Aku berdiri, dan berjalan di langkah yang berlawanan dengan Daren saat ia pergi. Di hari saat aku berpikir aku tak akan pernah mampu melewati waktu-waktu berikutnya tanpanya, maka di saat itulah aku sudah bisa merelakannya.

Labels:


Newer Post© 2013 Layout. Font. Image & IconOlder Post