AboutOtherJournalFollow

tentang mawar dan kerapuhannya
Pada awal ketika silsilah dunia baru saja dimulai, di sebuah padang rumput hidup sekuntum bunga yang cantik. Bunga itu merekah dengan indahnya setiap hari dan menguarkan warna merah darah. Bunga itu hanya ada satu-satunya di dunia. Dan orang-orang pun memanggilnya mawar.

Tapi betapa pun anggun dan cantiknya mawar, tak ada orang yang berani mendekat ke arahnya atau menyentuhnya. Hanya karena duri berbentuk jarum di sekeliling tangkainya lah orang-orang takut terluka karenanya.

Mawar merasa sedih. Cahaya matahari tak mampu ceriakan ia lagi. Segarnya embun tidak membuatnya sejuk lagi. Dan helaian angin kini tak bisa menghiburnya.

Ia mengutuk dirinya sendiri. Kenapa ia tak ditakdirkan jadi apel saja, atau jeruk, atau semangka. Karena meskipun mereka tak secantik dirinya, tapi orang-orang selalu menyukainya. Orang-orang bisa menikmati renyahnya apel, manisnya jeruk, dan segarnya semangka tanpa takut terluka.

Lama kelamaan, mawar itu tak punya semangat hidup lagi. Setiap hari ia hanya menangis dan menangis. Hatinya hancur dan lepuh. Ia terlelap dalam penderitaannya, hingga ia kehilangan rona merahnya dan menjadi layu.

Sampai kemudian datanglah seekor kupu-kupu. Kupu-kupu yang menawan dengan sayap yang lebar berwarna lembayung. Melihat mawar itu layu, kupu-kupu segera bertanya.

“Mawar, kenapa kamu siksa dirimu sendiri hingga menjadi layu seperti ini?”
Mawar tetap terisak. “Tak ada orang yang suka padaku. Aku mengerikan. Tak ada gunanya aku cantik kalau duri-duri sialan itu masih bertengger di tangkaiku. Aku ingin jadi cantik dan sempurna, seperti yang lainnya,”

Kupu-kupu tersenyum kecil. “Kalau begitu kenapa kamu malah terbenam dalam penderitaanmu? Jika kamu layu, maka kamu akan semakin tak berguna. Menyesali diri tak akan menyelesaikan masalah, juga tak akan menghilangkan duri di tangkaimu. Kenapa kamu tidak menerima takdirmu dengan ikhlas dan membiarkan semuanya berjalan apa adanya? Jika kesempurnaan itu ada, jika kebahagiaan itu selamanya, maka kita tak akan ada disini. Tak ada bumi, tak ada langit, tak ada angin. Karena kesempurnaan itu hanya satu. Dan hanya Tuhan yang memiliki. Sadari itu,”

Mawar tertegun. Semua tindak dan ucapannya selama ini berbaur dalam pikirannya. Apakah selama ini ia serakah, meminta terlalu jauh, terlalu banyak? Ia hanya ingin dicintai dan bahagia, selamanya. Tapi apakah itu berlebihan? Bukankah setiap makhluk berhak atas kebahagiaan?

Seakan bisa menerka pikiran mawar, kupu-kupu melanjutkan. “Tak ada salahnya berharap bahagia. Tapi kebahagiaan itu relatif. Jika kamu menempatkan hatimu pada posisi menderita, padahal kamu telah dianugerahi banyak kelebihan, maka kelebihan yang seharusnya menjadi sumber bahagiamu akan sia-sia. Terbuang tanpa makna, karena kamu sendiri lah yang membuatnya demikian,”

Dan kemudian kupu-kupu pergi menjauh. Mawar tertegun untuk kedua kalinya. Mungkin benar adanya kata-kata kupu-kupu itu. Bila ia bereaksi terlalu berlebihan pada masalahnya, padahal ia mempunyai beribu kelebihan lainnya, lalu ia meminta kesempurnaan, maka itu serakah. Ya, kini ia sadar bahwa selama ini ia salah. Tak pantas ia meminta yang bukan-bukan seperti itu. Ia menegakkan tangkainya dan menatap matahari. Hari-hari yang penuh syukur akan ia jalani, selamanya.

Labels:


Newer Post© 2013 Layout. Font. Image & IconOlder Post