AboutOtherJournalFollow

Perahu Kertas :)
"Seperti perahu kertas yang dihanyutkan di parit, di empang, di kali, di sungai, tapi selalu bermuara di tempat yang sama..." *by: Perahu Kertas*

Cerita ini bener-bener bikin emosiku naik turun. Ngeliat gimana perjuangannya Keenan & Kugy untuk saling meraih impian masing-masing, meskipun harus rela jauh dari orang yang disayangin. Awalnya mereka sahabatan, trus setelah beberapa kejadian, mereka menjauh, dan menutup diri. Mereka udah nggak mau lagi percaya kalo mereka sebenernya emang ditakdirin untuk satu sama lain. Sampai akhirnya di suatu kesempatan, setelah semua masalah selesai, ta-daaa, mereka baikan dan nikah deh XD

Aku terinspirasi banget sama karakternya Kugy yang unik, yang berani jadi dirinya sendiri, apa adanya *jarang gitu ya nemu cewek kayak gitu*. Habis baca buku ini, aku jadi mikir. Emang sih, kadang kita harus berputar jauh dulu untuk jadi diri kita sendiri. Kadang kita harus jadi seseorang yang sama sekali lain sebelum kita bisa menjadi apa adanya.

But the question is :
Haruskah kita menjadi diri kita yang lain saat ini?

Labels: ,

4:15 AM, 0 comments
Eun-suh: "What do you want to be reborn as?"
Joon-suh: "What about you?"
Eun-suh: "I want to be a tree."
Joon-suh: "A tree?"
Eun-suh: "Yes, a tree. Once I put my roots down, I'll never move. So, I'll never be separated from anyone."

Labels:

Filosofi Angin
Monday, November 16, 2009, 5:14 AM, 0 comments
Jika suatu hari kau ingin dilahirkan kembali, maka jadilah angin.

Kata seseorang.

Kenapa harus angin?

Tanya seorang lainnya.

Karena, meskipun tak tersentuh, tak teraba, dan tak terdengar, angin selalu ada. Ia tak ingin hanya sekedar menjadi udara biasa, yang dihirup lalu dikeluarkan kembali. Ia ingin banyak orang menyadari bahwa ia ada. Ia ingin menunjukkan keberadaannya pada orang lain. Ia ingin beritahukan pada dunia bahwa ia tidak sekedar biasa. Maka ia harus melakukan sesuatu. Ia harus melakukan gerakan. Karena memang itulah konsep angin sebenarnya. Angin adalah udara yang bergerak.

Angin itu kuat. Meskipun keberadaannya nyaris tak nampak, tapi ia mampu menggesek dedaunan, menggerakkan kincir angin, bahkan menciptakan badai. Ia harus bersusah payah bergerak cepat dan menelusuri setiap ujung bumi agar setiap makhluk yang bernyawa merasakan kehadirannya dan menghargai keberadaannya.

Lantas, apa hubungannya denganku?


Maka jadilah seperti angin. Yang tak hanya diam dan menerima nasibnya secara pasrah. Ia melawan setiap rintang yang menghalangi agar ia mampu melakukan sesuatu dan memberikan yang terbaik pada dunia tempat ia bernaung. Jadilah pemberani sepertinya, yang mampu melintasi tiap senti kehidupan dan menghadapinya, apapun itu. Jadilah orang yang tidak hanya berpatokan pada nasib, tapi mau bermimpi dan berusaha untuk menjadi yang terbaik dan bertanggung jawab pada setiap pilihan yang ia buat :)

Labels:

Amore
4:41 AM, 0 comments
Pada jaman dahulu, di sebuah tempat bernama dunia, tinggallah benda-benda seperti kebahagiaan, ketulusan, kecantikan, kekayaan, kesedihan, dan lain lain. Disana, mereka tinggal bahagia dalam waktu yang sangat lama. Di antara benda-benda tersebut, ada dua hal yang tak lebur oleh zaman, yaitu waktu dan cinta.

Ketika waktu terus merangkak, hal-hal yang indah tak berjalan selamanya. Kini ketulusan dan kesetiaan sudah mulai tua. Bagian-bagian tubuh mereka sudah cacat dan mulai rusak. Hal itu membuat cinta sangat sedih. Ketulusan dan kesetiaan adalah teman terbaiknya. Mereka selalu ada, bersama-sama dengan cinta dan tak pernah lepas darinya.

“Ketulusan, apakah kamu akan selalu ada bersamaku?” kata cinta suatu kali. “Tidak, cinta. Ada kalanya nanti aku akan mulai menipis, dan menghilang bersama angin dari hati para manusia. Aku akan tergantikan oleh kekayaan, kecantikan, atau kamuflase,” kata ketulusan.

Cinta bertanya lagi. Kali ini pada kesetiaan. “Kesetiaan, apakah kamu akan selalu ada bersamaku?” Kesetiaan menggeleng. “Tidak, cinta. Suatu saat, aku akan meredup, dan nafsu akan mengambil alih tugasku. Ia membohongi setiap hati, dengan bujukan dan rayuan yang berkedok sebagai aku,”

Cinta hampir putus harapan, ketika kemudian kebijakan datang kepadanya. “Jangan takut, cinta. Saat kesetiaan dan ketulusan sudah pada batasnya untuk menemanimu, temuilah kejujuran,” kata kebijakan. Cinta bertanya, “mengapa harus kejujuran?”

Sebab, cinta yang sejati, cinta yang polos, dan cinta yang murni, itu jujur dan tanpa syarat, tidak menipu. Kejujuran mungkin tidak bertahan lama dalam hati, tapi kejujuran akan terus melekat pada cinta, selamanya. Sebab, ketika cinta sudah berjalan beriringan dengan kejujuran, maka hal-hal baik lainnya akan terbawa bersamanya. Kesetiaan, ketulusan, kebahagiaan, tak akan pernah lepas dari mereka.

Sebab, cinta, tampak atau tidaknya ia, selalu memiliki apa yang sekarang ini sudah hampir luntur dari hati-hati yang berkerak. Karena cinta, selalu jujur pada hati yang tercermin untuknya :)

Labels:

tentang mawar dan kerapuhannya
Sunday, November 15, 2009, 4:09 AM, 0 comments
Pada awal ketika silsilah dunia baru saja dimulai, di sebuah padang rumput hidup sekuntum bunga yang cantik. Bunga itu merekah dengan indahnya setiap hari dan menguarkan warna merah darah. Bunga itu hanya ada satu-satunya di dunia. Dan orang-orang pun memanggilnya mawar.

Tapi betapa pun anggun dan cantiknya mawar, tak ada orang yang berani mendekat ke arahnya atau menyentuhnya. Hanya karena duri berbentuk jarum di sekeliling tangkainya lah orang-orang takut terluka karenanya.

Mawar merasa sedih. Cahaya matahari tak mampu ceriakan ia lagi. Segarnya embun tidak membuatnya sejuk lagi. Dan helaian angin kini tak bisa menghiburnya.

Ia mengutuk dirinya sendiri. Kenapa ia tak ditakdirkan jadi apel saja, atau jeruk, atau semangka. Karena meskipun mereka tak secantik dirinya, tapi orang-orang selalu menyukainya. Orang-orang bisa menikmati renyahnya apel, manisnya jeruk, dan segarnya semangka tanpa takut terluka.

Lama kelamaan, mawar itu tak punya semangat hidup lagi. Setiap hari ia hanya menangis dan menangis. Hatinya hancur dan lepuh. Ia terlelap dalam penderitaannya, hingga ia kehilangan rona merahnya dan menjadi layu.

Sampai kemudian datanglah seekor kupu-kupu. Kupu-kupu yang menawan dengan sayap yang lebar berwarna lembayung. Melihat mawar itu layu, kupu-kupu segera bertanya.

“Mawar, kenapa kamu siksa dirimu sendiri hingga menjadi layu seperti ini?”
Mawar tetap terisak. “Tak ada orang yang suka padaku. Aku mengerikan. Tak ada gunanya aku cantik kalau duri-duri sialan itu masih bertengger di tangkaiku. Aku ingin jadi cantik dan sempurna, seperti yang lainnya,”

Kupu-kupu tersenyum kecil. “Kalau begitu kenapa kamu malah terbenam dalam penderitaanmu? Jika kamu layu, maka kamu akan semakin tak berguna. Menyesali diri tak akan menyelesaikan masalah, juga tak akan menghilangkan duri di tangkaimu. Kenapa kamu tidak menerima takdirmu dengan ikhlas dan membiarkan semuanya berjalan apa adanya? Jika kesempurnaan itu ada, jika kebahagiaan itu selamanya, maka kita tak akan ada disini. Tak ada bumi, tak ada langit, tak ada angin. Karena kesempurnaan itu hanya satu. Dan hanya Tuhan yang memiliki. Sadari itu,”

Mawar tertegun. Semua tindak dan ucapannya selama ini berbaur dalam pikirannya. Apakah selama ini ia serakah, meminta terlalu jauh, terlalu banyak? Ia hanya ingin dicintai dan bahagia, selamanya. Tapi apakah itu berlebihan? Bukankah setiap makhluk berhak atas kebahagiaan?

Seakan bisa menerka pikiran mawar, kupu-kupu melanjutkan. “Tak ada salahnya berharap bahagia. Tapi kebahagiaan itu relatif. Jika kamu menempatkan hatimu pada posisi menderita, padahal kamu telah dianugerahi banyak kelebihan, maka kelebihan yang seharusnya menjadi sumber bahagiamu akan sia-sia. Terbuang tanpa makna, karena kamu sendiri lah yang membuatnya demikian,”

Dan kemudian kupu-kupu pergi menjauh. Mawar tertegun untuk kedua kalinya. Mungkin benar adanya kata-kata kupu-kupu itu. Bila ia bereaksi terlalu berlebihan pada masalahnya, padahal ia mempunyai beribu kelebihan lainnya, lalu ia meminta kesempurnaan, maka itu serakah. Ya, kini ia sadar bahwa selama ini ia salah. Tak pantas ia meminta yang bukan-bukan seperti itu. Ia menegakkan tangkainya dan menatap matahari. Hari-hari yang penuh syukur akan ia jalani, selamanya.

Labels:

Broken
Saturday, November 14, 2009, 11:24 PM, 0 comments

Aku maju selangkah semakin dekat. Ke arahmu. Tapi kamu bergeming. Menatap jejak bayangku seolah itu bukan apa-apa. Dan ketika jarak sudah tak lagi menjadi penghalang, aku tak lagi menemukan binar di matamu. Sudah tak ada lagi getar yang sama seperti beberapa waktu lalu yang sempat kita lewatkan bersama, sengaja maupun tidak.

Bertahun aku berikan. Tulus dan tak mengharap cinta itu akan kembali dengan utuh padaku. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu sakiti itu. Permainkan dan ketika kamu bosan, kamu buang cinta itu ke dalam ketiadaan. Tak tahukah kamu kalau aku hampir menghilang bersamaan dengan hilangnya cahaya cinta itu dan terus melayang dalam kehampaan?

Kamu tahu, bagaimana rasa sakit itu menyakitiku? Sakit, sakit sekali. Aku ditipu, dikhianati, dibohongi, tepat di depan mataku sendiri, bertahun-tahun. Bodohnya aku, aku selalu mengharapkan kamu kembali. Kembali pada saat ketika kita masih berpegang pada akar yang sama. Saat ketika kita masih membingkai kenangan-kenangan lama, yang selama ini ternyata tak cukup berharga untuk memberikan makna di hatimu.

Kamu, masih seperti kamu yang dulu. Masih dengan sosok yang selama ini selalu aku kagumi. Tapi kamu yang kini di depanku, juga bukan seperti kamu yang dulu. Begitu mudahnya kamu berkata ‘iya’ pada kata-kata yang paling tak ingin aku ucapkan di hadapanmu. Kata-kata yang memutus semua benang yang terlalu rapuh untuk kita genggam bersama. Kita putus.

Andaikan bisa, aku ingin bersembunyi jauh sekali, agar tak bisa melihat matamu lagi. Karena aku yakin, seberapa dalam pun mata itu, aku tak akan bisa melihat refleksi diriku lagi di dalam sana. Aku tak akan mampu mengajak pemilik mata itu untuk kembali pada masa yang lampau. Di saat tawa dan air mata selalu kita bagi tanpa ada keraguan untuk memilihnya.

Maukah kamu membantuku untuk mengerti? Untuk berhenti sejenak, dan tentang apa yang telah terlewatkan oleh kita dalam jarak yang cukup panjang. Bisakah kamu hentikan waktu? Agar segala sesuatu di sekitar kita melambat, hingga mampu ingatkan kamu pada apa yang telah kita tinggalkan jauh-jauh di belakang.

Terima kasih, untuk apa yang telah kamu berikan secara cuma-cuma padaku. Entah itu tersembunyi di balik senyumku atau luruh dalam air mata. Terima kasih, untuk memberikanku kesempatan merasakan manis dan sakit yang sesungguhnya pada saat yang sama. Dan terima kasih, untuk kata-kata yang tak sempat terucapkan, dan hanya akan bersembunyi dalam hati.
Aku hanyalah sekeping kecil dari larik kehidupanmu, maka biarkan aku menempuh jalan berduri ini dan meninggalkan kenangan-kenangan semu tentang kamu, jauh-jauh di belakang.

#04/11/09

Labels: ,

Over You
Friday, November 13, 2009, 10:36 PM, 0 comments

“Sori, tapi mending kita putus aja, ya,”

Sebaris kalimat yang keluar dari bibir Daren barusan membuat tubuhku kaku seketika. Amplop berisi foto-foto yang kubawa terjatuh dan menimbulkan suara hening di kejauhan. Aku berdiri diam. Sangat diam, sampai seluruh tubuhku terasa dingin. Angin sepoi-sepoi mempermainkan rambutku hingga bergoyang-goyang pelan.

“Tapi kenapa? Kita udah hampir setahun jadian, kan? Kenapa kamu minta putus gitu aja? Tanpa alasan?” tuntutku. Daren terdiam. Ia menunduk, memandang kerikil-kerikil yang berkumpul di sekitar kakinya. Melihat wajah Daren yang tanpa ekspresi, pipiku terasa pias. Aku merasakan bola mataku bergerak kacau hingga menimbulkan lapisan bening air mata.

Ada jeda begitu lama, hingga Daren tiba-tiba membungkuk. Ia menyandang ranselnya di bahu dan menatap mataku sekilas. “Sori, Lin. Aku rasa ini emang keputusan yang terbaik,”. Kemudian ia berbalik, berjalan dengan langkah panjang dan menjauh pergi.

Aku ingin berteriak, tapi tenggorokanku tercekat. Aku ingin memanggilnya kembali, tapi tak ada getar suara yang keluar. Aku ingin berlari menyusulnya, tapi kakiku terpaku kuat di tanah.

Begitu bayangan Daren menghilang dari pandanganku, aku menangis. Bulir air mata meluncur keluar dari mataku tanpa bisa ditahan hingga wajahku penuh dengan air mata. Bagaimana bisa ia pergi tanpa meninggalkan sedikit pun pesan kecuali sakit dan air mata? Bagaimana bisa ia menjauh dariku dan dengan mudahnya menghapus kenangan-kenangan yang lalu seolah itu tak pernah ada? Dan bagaimana ia bisa mengatakan ini keputusan yang terbaik, entah untuk siapa?

Aku menangkupkan wajah dengan kedua belah tangan. Taman itu sepi sekali. Hanya ada angin dan kenangan pedih yang ada saat ini. Ia pernah kuangggap sebagai satu-satunya penyatu yang mampu membuatku sempurna, tapi hanya dengan satu kalimat saja, rasanya ia terasa jauh. Jauh sekali, hingga aku tak akan pernah bisa meraihnya lagi sampai kapan pun.

Aku teringat pada foto-foto yang jatuh berserakan. Lalu aku berjongkok untuk merapikan foto-foto itu. Aku mengambil satu foto, dan tatapanku tertumbuk pada dua sosok yang tersenyum bahagia, saling berangkulan. Kuambil lagi sebuah foto, dan melihat wajah dua orang dengan kostum konyol Halloween. Lagi, dan lagi, foto-foto itu merefleksikan banyak hal. Foto saat makan coklat Valentine, dua tangan yang saling bergandengan, duduk dengan saling bersandar punggung, saat berboncengan sepeda. Air mataku turun perlahan dan jatuh di salah satu gambar, menyaksikan bayanganku dan Daren yang ada pada setiap foto.

Kutarik napas, lalu kembali melanjutkan menyusun kepingan-kepingan hati yang berserak. Kepingan-kepingan yang telah menyusun hatiku dan hatinya selama berbulan-bulan. Susah sekali bagiku untuk mengembalikan kepingan-kepingan yang ada dalam foto-foto itu kembali ke tempatnya semula, di hatiku. Dan betapa sakit dan perihnya seluruh senti tubuhku, saat aku menyadari bahwa ternyata selama ini Daren tak pernah menjadi yang terbaik bagiku.

Ketika Daren tak lagi menjadi satu-satunya bagiku, ketika ia telah mencuri hatiku dan dengan mudahnya meretakkan setiap sisinya, maka kini waktuku untuk berbalik. Aku berdiri, dan berjalan di langkah yang berlawanan dengan Daren saat ia pergi. Di hari saat aku berpikir aku tak akan pernah mampu melewati waktu-waktu berikutnya tanpanya, maka di saat itulah aku sudah bisa merelakannya.

Labels:

Family Edition.
Thursday, October 29, 2009, 7:14 AM, 0 comments
Family Edition ♥


let me introduce...

they who make me live until now, they who are willing to get through all the kind of ups & downs to keep our boat stabile; my lovely mom & dad :]



the time when it was still the two of us = our best time our relationship can be called 'an opposite attract' since we are so DIFFERENT in many ways yet we complete each other by teasing & laughing at the same moment & be best friend even tough we never want to reveal it to each other :P



the three of us sitting together in total happiness looked like we were in a scene of soap opera :3 my mom is kinda a calm person but she can be cynical every time she sees something that's unpleasant for her, esp. when it comes to her children :]



look who have the best dad in the world x] the most essential thing that makes me grateful to have him as my father is the fact that he always hides the trouble in our family to give his children tranquility, no matter how bad the situation is :']



I kinda miss those times when I could ride on my dad's back :'3 I once promised to myself that one day, every time I get award in any form, I'll first present it for my dad's happiness' sake :]


guess who's this cute little girl xDD


"Families are the compass that guide us. They are the inspiration to reach great heights, and our comfort when we occasionally falter."
- Brad Henry

Labels:


© 2013 Layout. Font. Image & Icon